Catatan Pilkada: Setelah Ini.

“Perhaps not surprisingly, I am also a man of two minds. I am not some misunderstood mutant from a comic book or a horror movie, although some have treated me as such. I am simply able to see any issue from both sides. Sometimes I flatter myself that this is a talent, and although it is admittedly one of a minor nature, it is perhaps also the sole talent I possess. At other times, when I reflect on how I cannot help but observe the world in such a fashion, I wonder if what I have should even be called talent. After all, a talent is something you use, not something that uses you. The talent you cannot not use, the talent that possesses you—that is a hazard, I must confess.”

The Sympathizer by Viet Thanh Nguyen

Seperti Thanh Nguyen, saya sering merasa kecenderungan saya (untuk mencoba) memahami latar belakang perilaku seseorang – terutama yang tidak bisa saya pahami atau tidak setujui – menjadi kekuatan dan kelemahan saya. Di satu sisi, ini membantu saya melihat perbedaan, di sisi lain saya hampir selalu menemukan alasan untuk ‘memahami’ alasan mereka bahkan jika itu menyakiti saya.

Ini yang terjadi dengan saya (lagi) di Pilgub Jakarta kemarin.

Pasca terpilihnya Trump di Amerika, beberapa podcast yang saya dengarkan banyak membahas keterkejutan pendukung Hillary tentang hasil pemilihan presiden yang di luar dugaan mereka. Banyak sekali yang begitu yakin dengan hasil polling dan berita yang beredar bahwa jagoan mereka menang. Setelah bergelut dengan argumen metode electoral vote – bukan popular vote – yang menyebabkan kekalahan Hillary, fenomena yang kemudian ramai dibicarakan adalah keputusan menghapus teman-teman yang berlawanan pilihan dari daftar teman mereka selama kampanye dan algoritma Facebook yang mendorong berita-berita yang sudah sejalan sama pilihan mereka.  Pemikiran mereka yang merasa lebih unggul tergaungkan oleh algoritma ini, seakan pendapat mereka adalah kenyataan yang terjadi. Padahal yang terjadi: mereka tinggal dalam eco-chamber dan berbagi argumen dengan orang-orang yang pilihannya sama; pesan-pesan yang mereka sampaikan tidak pernah mencapai pikiran orang-orang yang perlu diyakinkan karena yang ada di lini masa mereka adalah mereka yang sudah teryakinkan.

Menyadari Jakarta akan masuk ke masa kampanye pilkada, maka saya memutuskan untuk merangkul ramai dan pedasnya obrolan Pilkada dari kedua pihak di lini masa saya. Saya tidak menghapus teman-teman yang sudah jelas-jelas memilih kandidat yang berbeda. Buat saya mereka justru menawarkan sesuatu yang menarik: perspektif di balik pilihan politik mereka yang berbeda; dan di tengah adu janji masa kampanye,  mendengar argumen yang berbeda – kenapa dukung dia dan bukan si dia – membantu saya (sedikit lebih) mengerti sebenarnya apa sih nilai yang penting buat orang-orang yang berbagi kota dengan saya.

Keputusan saya untuk tetap menjaga semua teman di lini masa tanpa peduli apa pilihan mereka membuat saya bertemu dengan dua hal: realita dan kebingungan. Realita bahwa yang saya anggap penting belum tentu penting buat orang lain, dan kebingungan melihat teman-teman menggaungkan nilai-nilai yang begitu – apa ya bahasanya – traumatis buat saya. Tapi sekali lagi, ini membantu melihat dengan cara yang berbeda dan memahami narasi yang mungkin takkan pernah saya miliki.

Biar saya sampaikan dulu bahwa saya mendukung Ahok-Djarot. Jadi jagoan saya kalah.

Tapi ya sudah. Namanya juga politik dan ini kan pilihan orang-orang dengan latar belakang yang berbeda. Bahwa pilihan saya kalah, ya sudah.

Buat saya, semua argumen dan isu yang ditawarkan di pilkada ini wajar. Bahkan isu agama yang dilempar. Namanya juga sedang rebutan suara. Trump saja bawa-bawa kelemahan Hillary karena dia wanita. Substansial? Ya, tidak. Tapi kata siapa tidak boleh dipakai? Bahwa menurut saya penggunaan isu agama ini tidak elegan bukan berarti argumen ini tidak boleh ditawarkan kan? Karena toh di pemilu sebelumnya, kepandaian berbicara, kepandaian bernyanyi, dan muka yang lebih tampan sering dijadikan andalan.

Sebagai non-muslim, saya tidak keberatan kalau ada teman-teman yang tidak memilih Ahok karena dia non-muslim. Mungkin memang pemimpin yang punya kedekatan identitas membuat pemilih merasa aspirasinya akan lebih mungkin terwakili. Pasti ada orang-orang yang memilih Ahok karena beliau etnis Tionghoa dan beragama Kristen. Ini kan pilihan dan pilihan orang berbeda. Kalau konteks ini disebut rasis, ya terserah. Saya sih sudah menerima fakta bahwa sebagai manusia (atau bangsa?) kita berdiri dalam spektrum rasisme. Beberapa kecil sekali, yang lain mungkin lebih besar.

Saya punya cerita:

Waktu SMA, saya punya guru Fisika yang bagus banget, memang galak dan sinis tapi dia terkenal yang paling pintar se-SMA saya, kebetulan dia Muslim. Pada masa itu kita kan tidak bisa memilih guru ya. Jadi, dia ditugaskan mengajar kelas saya dan ya, saya merasa kualitas materi yang dia ajarkan lebih baik disbanding guru Fisika lain yang pernah saya miliki. Teman-teman saya di kelas lain cerita tentang guru Fisika mereka yang asyik, ada juga pilihan guru Fisika yang agamanya sama dengan saya. Nah, lalu saya buat perandaian: kalau dulu saya boleh memilih guru Fisika saya, mungkin gak ya saya akan memilih guru Fisika yang asyik itu juga atau guru yang seagama kalau kualitas pengajarannya tidak beda? Ya, mungkin saja. Tapi dengan pemahaman saya yang sekarang, yang sudah melihat hasil dari pengajaran guru Fisika yang galak itu efektif buat saya, kegalakan dan agama beliau jadi tidak penting. Sepertinya kalau pun dikasih pilihan, saya akan tetap memilih si guru yang galak tapi pintar ini. Dari kenangan saya belajar Fisika, guru-guru terbaik saya dan yang membuat saya belajar paling banyak adalah guru-guru saya yang galak, karena ketidaknyamanan kegalakan mereka mendorong saya untuk keluar dari zona nyaman belajar yang biasa-biasa saja, saya jadi tertantang memenuhi standar akademis mereka. Kegalakan guru Fisika saya itu mungkin karakter atau pilihan metode beliau; dan kalau misalnya beliau bisa tidak galak sih saya akan senang banget. Tapi kepintaran beliau mengatasi karakter mengajar beliau, buat saya.

Dengan pemahaman yang sama, saat saya mencoba melihat perspektif teman-teman yang lebih memilih Pak Anies dibandingkan Pak Ahok, karena Pak Anies itu Muslim, saya menerima bahwa itu adalah preferensi. Pak Anies toh punya latar belakang yang tidak main-main kan, beliau akademisi, membangun Indonesia Mengajar, pintar – kualitas beliau tidak kacangan; lalu Pak Anies-Sandi punya tutur kata yang baik dan menginspirasi, lalu punya kepercayaan yang sama. Lagi-lagi saya bisa mengerti bahwa akumulasi semua kualitas ini membuatnya menjadi calon yang, arguably, terbaik. Tapi, buat saya agamanya Pak Anies tidak penting, cara komunikasi penting tapi tidak sepenting kualitas dan efektifitas kerja beliau. Kalaupun Pak Anies itu Kristen dan Pak Ahok itu Muslim, saya tetap akan memilih Pak Ahok karena dia mendorong saya (baca: Jakarta) mendekat ke potensi penuhnya sebagai sebuah kota metropolis. Tapi, itu kan buat saya.Kalau ada orang lain yang melihat agama itu penting dalam memilih dan bahwa ini hal yang lebih penting buat mereka, saya menghormati itu. Sah-sah saja.

Saat kalah, saya memang emosional, tapi bukan kesedihan, namun kecemasan atas kemungkinan. Kemungkinan bahwa semua yang tergaungkan selama masa kampanye, yang terus-terusan menggunakan narasi agama sebagai dasar pembedaan – bukan perbedaan – membuat saya kembali terpental keluar dari lingkaran bangsa ini. Mendengar opini orang-orang yang masih terhubung dengan saya lewat lini masa, yang saya memang kenal secara pribadi, mengamini pembedaan ini sejujurnya membuat saya sedikit trauma. Trauma karena berarti bahkan orang yang saya kenal pun melihat diri saya yang berbeda – yang Kristen dan keturunan Tionghoa – ini ada di tingkat kependudukan yang lebih rendah, yang tidak seharusnya mengambil bagian dalam aspek-aspek tertentu di kehidupan berbangsa dan bernegara. Pembedaan identitas yang dieksploitasi sampai mengacuhkan kualitas diri lainnya dan kemudian membuncahkan kasta sosial karena siapa saya dan apa yang saya percayai menjadikan saya seperti manusia rendahan. (Artikel ini mengartikulasikan trauma yang saya rasakan dengan baik dan juga membantu memberi latar keterpisahan keturunan Cina di Indonesia.)

Loh, tadi kan kamu bilang kamu bisa paham kalau ada orang yang memilih kandidat yang seagama karena dirasa punya kedekatan yang mewakili kepentingan diri mereka?

Ya, saya memang bisa paham.  Tapi memilih dalam perbedaan itu punya efek yang berbeda dengan memilih dalam pembedaan. Perbedaan itu hal yang membuat berbeda. Pembedaan itu ‘proses, cara, perbuatan membedakan’. (Saya menggunakan definisi KBBI.) Agama adalah perbedaan membuat saya dan banyak teman saya berbeda, meneriakkan ‘Hey, Cina’ adalah pembedaan.

(Kalau kemudian ada yang ingin komentar, seharusnya kamu tidak tersinggung dengan perkataan ‘Hey Cina’ karena itu adalah kenyataan. Mari kita berhenti sejenak supaya saya bisa bilang perkataan itu punya beban sejarah yang begitu panjang; perkataan itu punya konotasi pembedaan mulai dari zaman kolonialisme yang mengusir imigran Cina keluar benteng kota Jakarta sampai pelarangan menggunakan nama dengan tiga suku kata. Saya tidak punya masalah sama kata ‘Cina’ untuk mengasosiasikan identitas saya, dengan hitamnya kulit saya, saya malah senang memperkenalkan diri sebagai orang keturunan Cina; yang selalu menjadi masalah kan caranya digunakan. Kalau ada yang menyarankan untuk mengganti ‘Cina’ dengan ‘Tionghoa’ mah menurut saya gak ada gunanya kalau penggunanya masih menggunakannya untuk merendahkan.)

Memilih kandidat karena Anda merasa ada kedekatan identitas dengan diri Anda adalah perbedaan preferensi saya dengan Anda; pembedaan terjadi saat kandidat lain yang punya agama dan fisik yang berbeda ini terus-terusan ditentang kelayakannya menjabat karena agama dan fisiknya.

Pembedaan agama dan ras memang bukan satu-satunya alasan kekalahan Ahok, tapi penggunaanya di dalam narasi politik paling bikin saya trauma. Karena walaupun setelah ini, hidup akan berjalan dengan biasa saja, Gojek masih akan bisa dipesan, dan akhir bulan akan tetap jadi waktu yang dinanti; kini kita sudah sampai di kenyataan bahwa bahwa pembedaan agama dan ras bisa begitu ‘gurih’ dipakai dalam membentuk opini. Ini mengganggu saya karena ini manuver yang menjanjikan di laga politik lainnya. Himbauan untuk melupakan yang sudah terjadi selama masa kampanye, ajakan untuk saling memaafkan, hanya akan menjadi jargon dan kehangatan sesaat apabila kita tidak membereskan kerapuhan hadirnya perbedaan dalam identitas bangsa kita.

Saya bersyukur buat teman-teman yang mendukung Pak Anies-Sandi tapi tidak menggunakan narasi pembedaan , mereka justru memperkaya saya akan potensi kinerja Anies-Sandi.  Beberapa memang membuat saya gerah dengan pesan-pesan yang mereka bagikan, namun setidaknya saya bisa belajar melihat dengan mata yang berbeda, dan itu mengingatkan saya untuk menjadi lebih inklusif. Mengutip tulisan Edward Suhadi ini, saya tetap ingin mereka dekat sama saya walaupun kita berbeda aspirasi. Karena kalau saya berhenti melihat, menerima, dan berdiri bersampingan dengan perbedaan, saya takut saya tidak bisa melihat, menerima, dan mengeksplorasi rasa, saya takut saya selalu merasa diri saya yang paling benar, dan merasa diri paling benar itu kesombongan yang paling bikin saya sebal.

Saya tidak khawatir dan tidak sedih sama apa yang akan terjadi dengan Pak Ahok dan Djarot setelah kekalahan ini. Saya yakin mereka akan baik-baik saja. Kualitas mereka pasti diminati banyak pihak, dan keteladanan mereka sudah terekam. They’ll be fine. If they’re that good, a mere governor position wouldn’t stop them from making impacts. I’m sure we’ll see more of them, and I don’t know about you, but I’m really looking forward for that.

Saya cuma ingin bilang ke diri saya sendiri kalau saya ingin Jakarta jadi terus sebaik Jakarta yang dipimpin Ahok, saya tidak bisa cuma minta Ahok memimpin Jakarta. That’s plain selfish. Eventually he would have to leave the position. Saya, kita, perlu jadi lebih berani mengambil pilihan-pilihan tidak enak yang Ahok-Djarot ambil juga: berbicara keras ke yang salah, mengambil tanggung jawab yang (sebenarnya) menyusahkan, menggoyang kebiasaan buruk, menjadi tidak populer demi melakukan yang benar, dan menolak batasan kontribusi hanya sekedar keminoritasan identitas diri. Ahok sebagai kandidat, yang secara identitas dekat dengan saya, memberikan saya harapan bahwa ini tidak mustahil.

Tidak ada hal besar yang terjadi tanpa pengorbanan. Sebagai pendukung yang kalah tentu saya melihat kekalahan ini sebagai pengorbanan; kita mengorbankan Ahok, jadi semoga hal besar yang baik akan datang. Seorang teman kecil mengingatkan saya ke pidato terakhir Obama sebelum menyerahkan kepresidenannya ke Trump:

“But to the young people who got into politics for the first time and may be disappointed by the results, I just want you to know, you have to stay encouraged. Don’t get cynical, don’t ever think you can’t make a difference. As Secretary Clinton said this morning, fighting for what is right is worth it. Sometimes you lose an argument, sometimes you lose an election. You know, the path that this country has taken has never been a straight line. We zig and zag and sometimes we move in ways that some people think is forward and others think is moving back, and that’s OK.”

Setelah ini, kita masih akan bergerak.

PS: Teman kecil saya, Yolanda, membagikan ceritanya berada di dalam arena di hari pilkada Ahok. She wrote her stories of taking part dan documenting the election day at her blog. You should check them here.

 

 

Advertisements

Comments are closed.

%d bloggers like this: