IMG_6752

Namaku Pram is an exhibition on the life and work of Pramoedya Ananta Toer at Dia.lo.gue, Kemang from 17 April – 20 May 2018.

Kunjungan saya ke Namaku Pram beberapa waktu yang lalu mengingatkan saya akan sulitnya saya bisa terhubung dengan tulisan-tulisannya. Membaca adalah salah satu cara kegiatan yang didorong orang tua saya semasa sekolah dulu, namun karya Pram tak pernah masuk di karya yang mereka pikir saya perlu baca. Pertama, karena karyanya dilarang sehingga sulit untuk didapatkan; kedua, karena karyanya dilarang dan keluarga kami keturunan Cina jadi sebaiknya kita main aman dan menghindari kemungkinan terkena masalah. (Ditambah lagi, karena saya selalu didorong membaca dalam bahasa Inggris, saya sempat – untuk waktu yang cukup lama – merasa membaca karya penulis Indonesia itu tidak keren.)

Waktu akhirnya saya berkesempatan membaca, dengan Jalan Raya Pos, Jalan Raya Daendels, saya pun masih belum dapat gregetnya. Saya pikir mungkin saya kehilangan konteks dan urgensi dalam tulisannya, karena saya menarik diri dari mau tahu tentang dinamika Pram – Orde Baru. tapi toh waktu saya membaca Native Son-nya Richard Wright, saya tetap bisa terhanyut di dalam konflik rasial masa segregasi di Amerika Serikat walaupun saya tak punya referensi budayanya. Saya mencoba beberapa kali, dengan tertatih, sampai akhirnya saya mulai lagi membaca Bumi Manusia tahun lalu.

Sepanjang pembacaan Bumi Manusia, saya pikir sepertinya Pram tidak menulis untuk menjelaskan sesuatu kepada orang-orang. Bisa didebat, tentu, karena pasti ada hal yang ingin dijabarkan di tulisannya. Tapi, saya sampai merasa bahwa sepertinya bukan itu tujuan utamanya karena saya yang sedang dilakukan adalah caranya mengingat Indonesia yang hadir dalam imajinya di Pulau Buru, Indonesia yang hadir dalam kenangan kolonial yang anehnya masih relevan saat dia menulis (bahkan sampai kita membaca), Indonesia yang sedang mencari bentuk, Indonesia yang begitu ingin dipahaminya, walaupun sesulit itu sampai dia harus nelangsa.

Saya yang sedang menantikan untuk terpesona dengan gaya tulisan yang mencerahkan atau kemulusan narasi yang menghanyutkan tentu terseok, karena dihantam oleh kegilaan gaya tulisan Pram sangat lugas tapi di saat yang sama juga memiliki kekompleksan arti sementara premis ceritanya terlihat sepertinya gampang ditebak, tapi yang terpenting justru terjadi bukan di kejadian-kejadian yang gamblang diceritakan tapi pada nuansa di latar.

Kembali lagi ke Namaku Pram, dengan tembok lini masa kehidupan yang menunjukkan betapa produktifnya Pram dalam rasa dan karya. Ide-idenya seperti membuncah terus di kepalanya, karena banyak yang harus direka tentang konsep kebangsaan, apalagi karena ia menyaksikan sendiri proses belajar berjalannya bangsa. Semua buncahan ini diikuti lalu dipuaskan sampai tuntas; lewat tulisannya semua pertanyaannya ditelusuri hampir seperti terobsesi. Obsesi yang, menurut saya, semuanya terpusat ke satu hal: memahami bangsa ini dan sepenuhnya.

Di sisi taman belakang, sebuah Taman Kata-kata, tempat yang jadi trademark foto pengunjung, kutipan tulisan Pram dicetak di lembaran-lembaran kain. Kain-kain itu digantung berbarisdicetak bolak-balik di kedua sisi kain, lalu terkadang ditiup semilir angin. Sebagian tulisan dicetak besar, sebagian kecil. Sebagian rata kiri, ada yang rata kanan, ada yang tersebar di permukaan. Penutup yang pas buat saya: suara dan pesan yang terus mengiang dari Pram tidak terjadi karena dia meneriakkannya sampai kuping kita pengang; ia terus terngiang karena ia selalu ada, di latar, melayang bersisian.

IMG_6778

 

 

 

Advertisements

Dua hari terakhir, aku pulang tepat ketika Kereta Jam Sebelas Malam melewati palang perlintasan kereta api di jalan menuju rumah. Saat pertama kali aku bertemu dengannya, Kereta Jam Sebelas Malam tepat sedang melewati jalur yang harus aku lalui. Keadaannya saat itu aku harus menginjak rem, supaya aku tidak menyeruduk beberapa motor yang sudah berhenti di depanku. Bayangkan kalau aku tidak melambat, bemper mobil depanku akan rusak. Apa yang terjadi kalau mobilku tidak berhenti tepat waktu? Towelan kecil mobilku apa pun bisa membuat jidat motor mereka menyundul laju kereta besi itu. Dan pastinya, jidat kepala mereka tidak akan hanya lecet, paling ringannya ada kulit kepala dahi mereka terkelupas. Jadi walaupun aku pernah sedikit punya mimpi untuk menjadi lalai, kurasa ini bukan mimpi yang harusnya kucapai.

Setelah gerbong terakhir di malam pertama itu lewat, kami melalui perlintasan kereta api, dan aku memberi koin lima ratus rupiah ke Bapak yang sedang giliran jaga. Dia melambai-lambai tangannya menyuruhku maju. Aku ulurkan koinnya sambil bilang terima kasih. Dijawab, “Makasih, Bos,” seperti biasa. Modalku hanya lima ratus perak untuk jadi bos.

Lalu kulihat di sisi jalan, palang perlintasan otomatis yang sudah dimodali perseroan pengelola kereta api milik negara. Palang otomatis itu ada di dua sisi rel kereta, keduanya hanya sempat digunakan di minggu pertama pemasangan. Itu pun karena memang masih ada petugas resmi perseroan itu yang bertugas setiap harinya. Tadinya kupikir, canggih juga area rumahku yang gangnya masih kampung dan masih sangat mudah melihat tikus kongkow di pekatnya selokan, akan punya palang perlintasan otomatis.

Setelah seminggu berlalu, para petugas penjaga perlintasan tidak resmi kembali menjadi pemberi peringatan kereta datang. Kurasa seminggu tidak mendapatkan pemasukan dari pekerjaan ini sudah mempengaruhi arus beras di dapur dan curahan uang jajan buat beli siomay si Entong di rumah. Alat canggih itu kini hanya bisa berdiri tanpa berfungsi. Kutaksir pengadaan alat itu setidaknya menghabiskan lima puluh juta per alat; ini pengamatan awam saja. Dua alat itu jadi seratus juta. Tapi keseratusjutaan yang dihabiskan itu justru menghabiskan industri informal perlintasan kereta api. Di jalur rumahku saja setiap jam paling tidak ada dua puluh mobil lewat, setiap arahnya. Motor lebih banyak lagi. Tapi motor biasanya tidak kasih koinan ke petugas Pak Ogah mana pun, hanya mobil yang dinanti. Empat puluh mobil per jam. Kalau saja setiap mobil memberi lima ratus perak seperti aku, mereka akan dapat dua puluh ribu per jam. Kalikan lima belas jam, kira-kira saja itu masa tugas mereka, sesuai jadwal kereta. Uang mereka per hari tiga ratus ribu ribu. Per bulan Sembilan juta. Tinggal dibagi berdasarkan aplusan, pasti lumayan. Jadilah alat canggih nan otomatis itu kini hanya jadi pengingat kemajuan zaman yang mengancam manusia kebanyakan, yang akhirnya kita hancurkan sebelum mereka menghancurkan kita.

Itu malam pertama.

IMG_Akung Emak Wedding 1

Here’s my paternal grandparents. My grandmother should be around 19 when this picture was taken, my grandfather presumably in his late 30s. This was 16 years after he left China and arrived in Palembang. It was his third marriage, first in China, second in Jakarta; to my grandmother’s older sister. My grandmother came to live with them when her sister was ill, helping her to tend their two daughters. When the sister passed away, her dying wish was for her to continue tending her daughters, and her brother in law; and that was the beginning of their life together.

She had always told the story in a bittersweet tone. She, just starting her sweet young adult life in Bandung working in a seemingly fashionable fabric shop, was then thrown into a lifetime bond with some man she hardly knew – even as a brother in law – who spoke no Indonesian. But they ended up together, with no love or romance to start off, but worked their way to have 10 kids. (Yeah, we made fun of that fact, too.)

She’d been suffering from Dementia this past couple of years and had been dormant lately. She just passed yesterday.

.

Every one was torn between not wanting to lose her and not wanting her to continue the suffer. I don’t think I’m the best at showing my emotions to her, but she still was that one grandmother who’d expectantly waited for me and my sister to come every other week with a homemade Sayur Asem. Having the same dish every other week can be boring, especially if you’re other grandmother also knew about this fact and decided to cook the same dish. So I did get bored and refused her cooking; to which she quickly offered some options from the surrounding food sellers. (Now as I look back I think my mom must have told them it was my favourite, and they were just being grandmothers.)

She had forgotten my name the last time we were talking last Chinese New Year. Our last ineraction was while she was in bed sleeping – or laying awake with her close shut. It was a couple of days after my birthday in September and how I felt about it. And then, slowly but unexpectedly she lids moved and her eyes looked at me, slightly smiling, and asked, “Whose (birthday)?” I then continued my story.

My grandmother always had a story to tell if you asked her. I never thought her as a storyteller until I put down this passage. She loved talking about her youth, soap operas, and celebrities. She could recite you the last episode of her favourite soap opera and about the old grandfather who – she thought – was hitting on her at church. She had a thing about vanity: her hair is always black and nicely cut, she liked to put lipstick and powder on, she compliments my skin suppleness – a trait which I owed her, at 83 her skin was not too shabby too. I did a small interview with her earlier last year to have a good idea of her youth, because we hardly talk about it and I have this obsession to my Chinese root. (Living in the suppression didn’t allow them to think that it’s okay to tell the story.) I remembered she once recited a story of life under the Japanese oppression, but she could only go as far as singing the Japanese song that I still couldn’t find what it meant. I kept wondering whether or not what she was telling what actually happened or if it’s something she made up. She seemed to struggle in picking up her memory folders: a young girl from Cirebon who went to explore Bandung to create herstory when it took an unexpected twist.

I wonder how many of her stories had been left untold.

I don’t remember if I gave a kiss the night I left, she had always been the one who left me a kiss – a sniffle on the cheek, rather than a peck. But I did wonder what it was that went through her mind all those moments as she laid. I think she’s there but also not there. I wondered if in her mind, stories kept passing in a non-chronological order and she’d been occupying herself all those time when we thought she was idle. I wondered if she’d solved it and had sown together the moving image of her life; that she finally got her-story together for one last time when she left.

In memory of Vindhya Birahmatika Sabnani

(8 December 1984 – 23 May 2017)

It really is difficult to make sense of losses when you’re young, and especially when those who pass are also young. When you’re young, you feel that you’re invincible, you don’t quite grasp the idea of life as temporary.

When I was in high school, I lost a classmate. He was the smartest person I had ever met. For real. He had perfect scores in chemistry, math, and physics at the end of the second term. My teachers were projecting him to take part in the International Physics Olympiad selection. He was taking first year college Physics material while the teacher was teaching us velocity. He was socially awkward and throughout his life he had never taken a public transportation all by himself.

Sometime in March 2002, Jakarta was under big flood and my house was drowned; his too. After taking the Monday off because of the flood, I came to school on Tuesday and noticed that Handadi’s dad was not there with his Vespa when school’s out. The anxious Handadi was walking out of the school gate to the bus stop. We’re going to the same direction, so I talked to him and told him that we should get on the next stop and get down at the same spot. I told him that we would be taking a different bus after this one, but his would be quite easy to spot. He just need to walk about 200 meter across the traffic light.

On Wednesday and Thursday, for some reason I still can’t remember to this day, I didn’t make my way to school. I called a friend Thursday evening to check the things I need to catch up with, she said that there was not much. “We didn’t really have a class today,” she said, “We went to the hospital to visit Handadi. He was in comma.”

The story went that on Wednesday, Handadi took a bus with another classmate, but had no one to get off with together. I guess I didn’t think that he wouldn’t know how to get off of a bus. I can get off from a slightly moving bus, and I thought everyone could. Apparently he couldn’t. Perhaps he was not sure that he was at the right spot to get off, because instead of getting off at the bus stop, he got off at the traffic light, perhaps slightly jumping from the bus that unfortunately started to hit the speed as the traffic light turned green. He fell and hit his head. He was in comma for three days before he left. To this day, I felt my stomach turned whenever I remember this story.

I wasn’t close to Handadi; his absence affected me just as much as we had one empty seat during our final test period the following week, and our inability to solve our physics electromagnetic problems. When we went to his cremation and his dad told me that I needed to continue his son’s path: to be the brilliant one. I didn’t know how to tell him that the previous term I stopped getting good grades in math and physics, that I didn’t think I could live up to his expectation. To this day, I questioned my reasons to not go to school on the day Handadi fell. It’s counter-productive, I know, it’s been years; but the loss is still not palpable. Handadi’s folder are still intact in my Document in one of my hard drives.

This week, I lost a good friend. We probably only meet once a year, in the past five years, but I really can tell you the story of that every meet: what we talked about, the feelings, the things we talk, how she looked on those particular moments, and the extra time that we managed to add on top of the event that allowed us to reunite. It’s heartbreaking, and I am heartbroken. Yet, at the same time, her presence had always been physically subtle that I know for sure it wouldn’t affect my life in its entirety accept for her absence in that once a year meet-up, for the talk in the hours added to those events, for regular beautiful snaps of her travel throughout Indonesia in my timeline.

I went to her funeral today, and for the first time shared the moment of her absence with fellow friends. Grief was there, but we laughed at the stupid moments we shared when she was with us. I bid my condolences to the family, but knew that my loss was incomparable to theirs. I know just like it was with Handadi, I would never be able to resolve the grief, that my stomach would always turn when I remember that she’s gone, that I would always come to a halt whenever I think of her, that her folder will always stay.

I don’t mind with any of these consequences. I hope that I treat her memories well. I hope I won’t forget that the folder exists. I know everyone cherishes the part of her that she shared with us. It’s not easy to share a part of your life with another person, yet she had shared hers with many, and being allowed to have a part of her stories – even on those mere subtle meetings – had been an honour.

Ini seperti hari Ned Stark, yang dengan naifnya membela Raja Baratheon dan pewaris tahta yang sebenarnya, dipenggal di episode terakhir Season 1 Game of Thrones. Saat menonton kita tahu siapa yang jahat, yang kita belum tahu adalah betapa kecilnya bagian dibandingkan keseluruhan cerita yang masih belum bergulir.

Ini hari yang sama sulitnya buat saya, hanya saja ini nyata. Masih banyak emosi yang membingungkan.

Saya sebenarnya ingin bicara tentang asa di balik putusan Ahok dipenjara, tapi saat ini saya masih ingin sedikit merangkul rasa duka; buat Ahok dan harapan yang sedikit pergi bersamanya.

Boleh saya mulai dengan bilang, “Saya marah sekali”? Saya marah sama orang-orang yang menggunakan agama dan identitas untuk kepentingan (dan keuntungan) politik dan membuat apa yang terjadi di Jakarta saat ini seakan menjadi sekedar perlawanan antara agama mayoritas dan minoritas. Ini memang bukan pertama kalinya. Tetapi setelah banyak melangkah, kembali ke titik ini sungguh menyebalkan.

Saya marah karena beberapa teman saya terbawa kelekatan identitas agama dan etnisitas. Saya marah karena saya pun terbawa melekatkan diri saya dengan identitas agama dan etnisitas – keduanya minoritas – lalu berdiri berseberangan mereka.
 
(Garis bawahi: ‘mereka’. Saya sedang menarik garis batas pemisah lagi.)

Tapi ini taktik yang umum bukan? Kita terjebak di intrik perebutan kekuasaan di antara mereka yang berkepentingan: para Lannisters, Targaryens, Boltons, dan Starks yang sedang memainkan pionnya. Kita, rakyat jelata, yang terjebak di dalamnya jadi harus ikutan ramai-ramai. Padahal isu yang direbutkan tidak menguntungkan kita segitunya: urusan pembagian area kekuasaan saja. Lalu kita dihadapkan dalam pilihan – atau mau tidak mau terpaksa mengikuti pilihan Tuan kita, Sang Patron –  untuk mendukung Ramsey Bolton atau John Snow di The North.

Saya berusaha sekali untuk tidak melihat apa yang terjadi kepada Ahok dari sudut pandang agama dan identitas. Sungguh, saya berkali-kali mencoba untuk mengecilkan asosiasi etnis dan agama Ahok dalam kasus ini. Saya berusaha keras untuk melihat ini murni sebagai penjegalan politik karena banyak yang dirugikan Ahok yang terlalu bersih dari korupsi.

Tapi boleh kan saya bilang: susah sekali loh untuk melepaskan label agama dan identitas saat label agama dan identitas lah yang selama ini diusung-usung dalam setiap ‘aksi’, saat setiap hari Jumat speaker masjid di dekat rumah saya menyebarkan rasa benci atas ‘kafir’nya individu yang Cina dan Kristen itu. Saya yang merasa cukup terbuka saya atas perbedaan, akhirnya juga ikut terjebak dalam narasi ‘Kita berbeda, maka apa kau bercanda? Mana mungkin kita bisa jadi satu’.

Saya tumbuh dengan diajarkan untuk membela iman saya, bukan agama. Tapi mungkin dalam bentuk kepercayaan yang lain iman sama dengan agama. Saya tidak mau mendebat perbedaan itu. Saya bisa mengerti kalau ada respon yang berbeda saat bagian dari agama itu dikomentari, bisa menyinggung. Itu saya paham. Saat pesan Ahok diterima dengan tersinggung oleh pendengar/ penonton video itu, saya juga bisa paham. Pesannya mungkin tidak diniatkan untuk menghina, tapi kalau ada yang terhina saat pesan itu diterima, itu kan umum sekali ya di konsep komunikasi. Pesan yang diterima seringkali lebih penting dari pesan yang dimaksudkan. Ya sudah. It’s been done. You can’t undo what you say. Ya, saya patah hati, Ahok tidak pantas dipenjarakan. Tapi terpenjaranya Ahok cuma satu sisi koin. Buat saya, Ahok masuk bui tidak mengecilkan kebesarannya.

Ahok, identitas, dan agama hanya judul buku untuk epic perpolitikkan yang sedang dipentaskan. Karakter Ahok tidak bisa menjadi bagian di dalamnya. Saya frustasi karena jika tidak ada orang yang baik di buku ini, dari mana saya bisa berharap akhir yang indah?

Saya bertahun-tahun (mencoba) terlibat dalam kegiatan pemahaman antarbudaya, namun saya tetap tidak siap menghadapi keadaan ini. Konsep ‘tidak ada benar atau salah, yang ada hanyalah berbeda’ dalam pembelajaran antarbudaya jadi tidak berlaku – atau jadi tidak laku. Kali ini konsep yang bisa ditawarkan adalah: ‘kita benar, yang berbeda salah‘ lalu sama-sama mengamininya dalam doa.

Tadinya saya berharap bisa menang dari jebakan narasi ini, karena kita toh bukan hidup di zaman ketika Winterfell, yang cuma punya satu sumber informasi: surat para burung – yang itu pun mungkin saja disabotase.

Tapi ternyata kebanyakan akses informasi tidak membantu nalar kita yang belum terlatih memilih. Timeline saya tetap ada yang anti-Ahok dan anti kekafiran di bulan-bulan menjelang Pilkada Jakarta. Saya kira saya akan bisa lebih paham perspektif yang berbeda. Tapi saya tetap gagal paham, saya tetap jadi muram. Ternyata suara yang berbeda tetap bikin saya tidak nyaman. Nada pembelaan semakin terdengar menyerang, mereka yang bertahan mengusung ‘perbedaan’ juga merasa paling benar; aksi bela yang damai, makin ramai, makin tidak santai, lalu dijadikan olokan dari sisi yang berlawanan.

Setelah Ahok, kita berhadapan dengan banyak proyek belajar: belajar mendengar suara yang berbeda,  belajar meminjam kacamata teman saat melihat sesuatu, belajar mengolah persepsi, belajar menahan judgement, belajar mengendalikan respon, belajar bicara dengan mereka yang berbeda nilai, belajar merasa nyaman dengan perbedaan.

Dan di saat yang sama belajar mengawal bangsa ini supaya tak hanya orang-orang ‘berkepentingan’ saja yang bermain di dalamnya. Jika kita tetap seacuh itu, kitalah yang bersalah jika keadaan ini terulang kembali.

Ini tidak akan mudah. Namun, kita sedang masuk Season 2. Bersiaplah.

“Perhaps not surprisingly, I am also a man of two minds. I am not some misunderstood mutant from a comic book or a horror movie, although some have treated me as such. I am simply able to see any issue from both sides. Sometimes I flatter myself that this is a talent, and although it is admittedly one of a minor nature, it is perhaps also the sole talent I possess. At other times, when I reflect on how I cannot help but observe the world in such a fashion, I wonder if what I have should even be called talent. After all, a talent is something you use, not something that uses you. The talent you cannot not use, the talent that possesses you—that is a hazard, I must confess.”

The Sympathizer by Viet Thanh Nguyen

Seperti Thanh Nguyen, saya sering merasa kecenderungan saya (untuk mencoba) memahami latar belakang perilaku seseorang – terutama yang tidak bisa saya pahami atau tidak setujui – menjadi kekuatan dan kelemahan saya. Di satu sisi, ini membantu saya melihat perbedaan, di sisi lain saya hampir selalu menemukan alasan untuk ‘memahami’ alasan mereka bahkan jika itu menyakiti saya.

Ini yang terjadi dengan saya (lagi) di Pilgub Jakarta kemarin.

Pasca terpilihnya Trump di Amerika, beberapa podcast yang saya dengarkan banyak membahas keterkejutan pendukung Hillary tentang hasil pemilihan presiden yang di luar dugaan mereka. Banyak sekali yang begitu yakin dengan hasil polling dan berita yang beredar bahwa jagoan mereka menang. Setelah bergelut dengan argumen metode electoral vote – bukan popular vote – yang menyebabkan kekalahan Hillary, fenomena yang kemudian ramai dibicarakan adalah keputusan menghapus teman-teman yang berlawanan pilihan dari daftar teman mereka selama kampanye dan algoritma Facebook yang mendorong berita-berita yang sudah sejalan sama pilihan mereka.  Pemikiran mereka yang merasa lebih unggul tergaungkan oleh algoritma ini, seakan pendapat mereka adalah kenyataan yang terjadi. Padahal yang terjadi: mereka tinggal dalam eco-chamber dan berbagi argumen dengan orang-orang yang pilihannya sama; pesan-pesan yang mereka sampaikan tidak pernah mencapai pikiran orang-orang yang perlu diyakinkan karena yang ada di lini masa mereka adalah mereka yang sudah teryakinkan.

Menyadari Jakarta akan masuk ke masa kampanye pilkada, maka saya memutuskan untuk merangkul ramai dan pedasnya obrolan Pilkada dari kedua pihak di lini masa saya. Saya tidak menghapus teman-teman yang sudah jelas-jelas memilih kandidat yang berbeda. Buat saya mereka justru menawarkan sesuatu yang menarik: perspektif di balik pilihan politik mereka yang berbeda; dan di tengah adu janji masa kampanye,  mendengar argumen yang berbeda – kenapa dukung dia dan bukan si dia – membantu saya (sedikit lebih) mengerti sebenarnya apa sih nilai yang penting buat orang-orang yang berbagi kota dengan saya.

Keputusan saya untuk tetap menjaga semua teman di lini masa tanpa peduli apa pilihan mereka membuat saya bertemu dengan dua hal: realita dan kebingungan. Realita bahwa yang saya anggap penting belum tentu penting buat orang lain, dan kebingungan melihat teman-teman menggaungkan nilai-nilai yang begitu – apa ya bahasanya – traumatis buat saya. Tapi sekali lagi, ini membantu melihat dengan cara yang berbeda dan memahami narasi yang mungkin takkan pernah saya miliki.

Biar saya sampaikan dulu bahwa saya mendukung Ahok-Djarot. Jadi jagoan saya kalah.

Tapi ya sudah. Namanya juga politik dan ini kan pilihan orang-orang dengan latar belakang yang berbeda. Bahwa pilihan saya kalah, ya sudah.

Buat saya, semua argumen dan isu yang ditawarkan di pilkada ini wajar. Bahkan isu agama yang dilempar. Namanya juga sedang rebutan suara. Trump saja bawa-bawa kelemahan Hillary karena dia wanita. Substansial? Ya, tidak. Tapi kata siapa tidak boleh dipakai? Bahwa menurut saya penggunaan isu agama ini tidak elegan bukan berarti argumen ini tidak boleh ditawarkan kan? Karena toh di pemilu sebelumnya, kepandaian berbicara, kepandaian bernyanyi, dan muka yang lebih tampan sering dijadikan andalan.

Sebagai non-muslim, saya tidak keberatan kalau ada teman-teman yang tidak memilih Ahok karena dia non-muslim. Mungkin memang pemimpin yang punya kedekatan identitas membuat pemilih merasa aspirasinya akan lebih mungkin terwakili. Pasti ada orang-orang yang memilih Ahok karena beliau etnis Tionghoa dan beragama Kristen. Ini kan pilihan dan pilihan orang berbeda. Kalau konteks ini disebut rasis, ya terserah. Saya sih sudah menerima fakta bahwa sebagai manusia (atau bangsa?) kita berdiri dalam spektrum rasisme. Beberapa kecil sekali, yang lain mungkin lebih besar.

Saya punya cerita:

Waktu SMA, saya punya guru Fisika yang bagus banget, memang galak dan sinis tapi dia terkenal yang paling pintar se-SMA saya, kebetulan dia Muslim. Pada masa itu kita kan tidak bisa memilih guru ya. Jadi, dia ditugaskan mengajar kelas saya dan ya, saya merasa kualitas materi yang dia ajarkan lebih baik disbanding guru Fisika lain yang pernah saya miliki. Teman-teman saya di kelas lain cerita tentang guru Fisika mereka yang asyik, ada juga pilihan guru Fisika yang agamanya sama dengan saya. Nah, lalu saya buat perandaian: kalau dulu saya boleh memilih guru Fisika saya, mungkin gak ya saya akan memilih guru Fisika yang asyik itu juga atau guru yang seagama kalau kualitas pengajarannya tidak beda? Ya, mungkin saja. Tapi dengan pemahaman saya yang sekarang, yang sudah melihat hasil dari pengajaran guru Fisika yang galak itu efektif buat saya, kegalakan dan agama beliau jadi tidak penting. Sepertinya kalau pun dikasih pilihan, saya akan tetap memilih si guru yang galak tapi pintar ini. Dari kenangan saya belajar Fisika, guru-guru terbaik saya dan yang membuat saya belajar paling banyak adalah guru-guru saya yang galak, karena ketidaknyamanan kegalakan mereka mendorong saya untuk keluar dari zona nyaman belajar yang biasa-biasa saja, saya jadi tertantang memenuhi standar akademis mereka. Kegalakan guru Fisika saya itu mungkin karakter atau pilihan metode beliau; dan kalau misalnya beliau bisa tidak galak sih saya akan senang banget. Tapi kepintaran beliau mengatasi karakter mengajar beliau, buat saya.

Dengan pemahaman yang sama, saat saya mencoba melihat perspektif teman-teman yang lebih memilih Pak Anies dibandingkan Pak Ahok, karena Pak Anies itu Muslim, saya menerima bahwa itu adalah preferensi. Pak Anies toh punya latar belakang yang tidak main-main kan, beliau akademisi, membangun Indonesia Mengajar, pintar – kualitas beliau tidak kacangan; lalu Pak Anies-Sandi punya tutur kata yang baik dan menginspirasi, lalu punya kepercayaan yang sama. Lagi-lagi saya bisa mengerti bahwa akumulasi semua kualitas ini membuatnya menjadi calon yang, arguably, terbaik. Tapi, buat saya agamanya Pak Anies tidak penting, cara komunikasi penting tapi tidak sepenting kualitas dan efektifitas kerja beliau. Kalaupun Pak Anies itu Kristen dan Pak Ahok itu Muslim, saya tetap akan memilih Pak Ahok karena dia mendorong saya (baca: Jakarta) mendekat ke potensi penuhnya sebagai sebuah kota metropolis. Tapi, itu kan buat saya.Kalau ada orang lain yang melihat agama itu penting dalam memilih dan bahwa ini hal yang lebih penting buat mereka, saya menghormati itu. Sah-sah saja.

Saat kalah, saya memang emosional, tapi bukan kesedihan, namun kecemasan atas kemungkinan. Kemungkinan bahwa semua yang tergaungkan selama masa kampanye, yang terus-terusan menggunakan narasi agama sebagai dasar pembedaan – bukan perbedaan – membuat saya kembali terpental keluar dari lingkaran bangsa ini. Mendengar opini orang-orang yang masih terhubung dengan saya lewat lini masa, yang saya memang kenal secara pribadi, mengamini pembedaan ini sejujurnya membuat saya sedikit trauma. Trauma karena berarti bahkan orang yang saya kenal pun melihat diri saya yang berbeda – yang Kristen dan keturunan Tionghoa – ini ada di tingkat kependudukan yang lebih rendah, yang tidak seharusnya mengambil bagian dalam aspek-aspek tertentu di kehidupan berbangsa dan bernegara. Pembedaan identitas yang dieksploitasi sampai mengacuhkan kualitas diri lainnya dan kemudian membuncahkan kasta sosial karena siapa saya dan apa yang saya percayai menjadikan saya seperti manusia rendahan. (Artikel ini mengartikulasikan trauma yang saya rasakan dengan baik dan juga membantu memberi latar keterpisahan keturunan Cina di Indonesia.)

Loh, tadi kan kamu bilang kamu bisa paham kalau ada orang yang memilih kandidat yang seagama karena dirasa punya kedekatan yang mewakili kepentingan diri mereka?

Ya, saya memang bisa paham.  Tapi memilih dalam perbedaan itu punya efek yang berbeda dengan memilih dalam pembedaan. Perbedaan itu hal yang membuat berbeda. Pembedaan itu ‘proses, cara, perbuatan membedakan’. (Saya menggunakan definisi KBBI.) Agama adalah perbedaan membuat saya dan banyak teman saya berbeda, meneriakkan ‘Hey, Cina’ adalah pembedaan.

(Kalau kemudian ada yang ingin komentar, seharusnya kamu tidak tersinggung dengan perkataan ‘Hey Cina’ karena itu adalah kenyataan. Mari kita berhenti sejenak supaya saya bisa bilang perkataan itu punya beban sejarah yang begitu panjang; perkataan itu punya konotasi pembedaan mulai dari zaman kolonialisme yang mengusir imigran Cina keluar benteng kota Jakarta sampai pelarangan menggunakan nama dengan tiga suku kata. Saya tidak punya masalah sama kata ‘Cina’ untuk mengasosiasikan identitas saya, dengan hitamnya kulit saya, saya malah senang memperkenalkan diri sebagai orang keturunan Cina; yang selalu menjadi masalah kan caranya digunakan. Kalau ada yang menyarankan untuk mengganti ‘Cina’ dengan ‘Tionghoa’ mah menurut saya gak ada gunanya kalau penggunanya masih menggunakannya untuk merendahkan.)

Memilih kandidat karena Anda merasa ada kedekatan identitas dengan diri Anda adalah perbedaan preferensi saya dengan Anda; pembedaan terjadi saat kandidat lain yang punya agama dan fisik yang berbeda ini terus-terusan ditentang kelayakannya menjabat karena agama dan fisiknya.

Pembedaan agama dan ras memang bukan satu-satunya alasan kekalahan Ahok, tapi penggunaanya di dalam narasi politik paling bikin saya trauma. Karena walaupun setelah ini, hidup akan berjalan dengan biasa saja, Gojek masih akan bisa dipesan, dan akhir bulan akan tetap jadi waktu yang dinanti; kini kita sudah sampai di kenyataan bahwa bahwa pembedaan agama dan ras bisa begitu ‘gurih’ dipakai dalam membentuk opini. Ini mengganggu saya karena ini manuver yang menjanjikan di laga politik lainnya. Himbauan untuk melupakan yang sudah terjadi selama masa kampanye, ajakan untuk saling memaafkan, hanya akan menjadi jargon dan kehangatan sesaat apabila kita tidak membereskan kerapuhan hadirnya perbedaan dalam identitas bangsa kita.

Saya bersyukur buat teman-teman yang mendukung Pak Anies-Sandi tapi tidak menggunakan narasi pembedaan , mereka justru memperkaya saya akan potensi kinerja Anies-Sandi.  Beberapa memang membuat saya gerah dengan pesan-pesan yang mereka bagikan, namun setidaknya saya bisa belajar melihat dengan mata yang berbeda, dan itu mengingatkan saya untuk menjadi lebih inklusif. Mengutip tulisan Edward Suhadi ini, saya tetap ingin mereka dekat sama saya walaupun kita berbeda aspirasi. Karena kalau saya berhenti melihat, menerima, dan berdiri bersampingan dengan perbedaan, saya takut saya tidak bisa melihat, menerima, dan mengeksplorasi rasa, saya takut saya selalu merasa diri saya yang paling benar, dan merasa diri paling benar itu kesombongan yang paling bikin saya sebal.

Saya tidak khawatir dan tidak sedih sama apa yang akan terjadi dengan Pak Ahok dan Djarot setelah kekalahan ini. Saya yakin mereka akan baik-baik saja. Kualitas mereka pasti diminati banyak pihak, dan keteladanan mereka sudah terekam. They’ll be fine. If they’re that good, a mere governor position wouldn’t stop them from making impacts. I’m sure we’ll see more of them, and I don’t know about you, but I’m really looking forward for that.

Saya cuma ingin bilang ke diri saya sendiri kalau saya ingin Jakarta jadi terus sebaik Jakarta yang dipimpin Ahok, saya tidak bisa cuma minta Ahok memimpin Jakarta. That’s plain selfish. Eventually he would have to leave the position. Saya, kita, perlu jadi lebih berani mengambil pilihan-pilihan tidak enak yang Ahok-Djarot ambil juga: berbicara keras ke yang salah, mengambil tanggung jawab yang (sebenarnya) menyusahkan, menggoyang kebiasaan buruk, menjadi tidak populer demi melakukan yang benar, dan menolak batasan kontribusi hanya sekedar keminoritasan identitas diri. Ahok sebagai kandidat, yang secara identitas dekat dengan saya, memberikan saya harapan bahwa ini tidak mustahil.

Tidak ada hal besar yang terjadi tanpa pengorbanan. Sebagai pendukung yang kalah tentu saya melihat kekalahan ini sebagai pengorbanan; kita mengorbankan Ahok, jadi semoga hal besar yang baik akan datang. Seorang teman kecil mengingatkan saya ke pidato terakhir Obama sebelum menyerahkan kepresidenannya ke Trump:

“But to the young people who got into politics for the first time and may be disappointed by the results, I just want you to know, you have to stay encouraged. Don’t get cynical, don’t ever think you can’t make a difference. As Secretary Clinton said this morning, fighting for what is right is worth it. Sometimes you lose an argument, sometimes you lose an election. You know, the path that this country has taken has never been a straight line. We zig and zag and sometimes we move in ways that some people think is forward and others think is moving back, and that’s OK.”

Setelah ini, kita masih akan bergerak.

PS: Teman kecil saya, Yolanda, membagikan ceritanya berada di dalam arena di hari pilkada Ahok. She wrote her stories of taking part dan documenting the election day at her blog. You should check them here.

 

 

image2.JPG

“(S)he was still twelve or thirteen, exactly as I had seen her twenty years before, ‘You haven’t changed at all,’ I said to her, and she said, ‘You’re so much older than you were.”

It took me a while to start and complete reading this book. I always judge a book by its first couple of page I strived reading it initially because Haruki Murakami made the preface of Sōseki’s importance to Japanese literature. I feel that the book reflects is something cultural: the absence of abrupt conflict, the subtleness of communication, the quiet mediation; and since I’m more familiar with Western authors and their style of writings, Sōseki’s felt flat and gray. Try imagine Japanese grey, pastel colour tone on their pottery to a western more vibrant colours; that’s how I feel about this book. Yet, just like its pottery, Sanshiro is beautiful. It embraces the slowness to capture the beauty of the setting, not just of the place, but also of the emotion.

The beauty of places were so spellbinding for my mind’s eyes that at times Sōseki left me forgetting the event Sanshirō was actually in. The emotions were delivered with words so delicate that I feel its layers would be shattered to pieces had I not handle it carefully. The writing: slow, flirtatious, consenting – all at the right moment – lead me to the imagery of emotions that we sort of knew but never had been articulated with such beautiful fragility.

“Then I asked her, ‘Why haven’t you changed?’ and she said, ‘Because the year I had this face, the month I wore these clothes, and the day I had my hair like this is my favourite time of all.’ ‘What time is that?’ I asked her. ‘The day we met twenty years ago,’ she said. I wondered to myself, ‘Then why have I aged like this?’ and she told me, ‘Because you wanted to go on changing, moving toward something more and more beautiful.’ Then I said to her, “You are a painting,” and she said, ‘You are a poem.'”